Text
Pergeseran Sikap Filipina Terhadap Tiongkok Dari Konfrontatif Menjadi Kooperatif Dalam Isu Laut China Selatan
Konflik Laut China Selatan merupakan konflik terpanas di abad ke-21, dimana sebagaian besar anggota ASEAN termasuk didalamnya. Laut China Selatan memiliki potensi ekonomi, politik, dan pertahanan yang sangat besar, sehingga dapat memicu sengketa berdasarkan kepentingan berbagai negara di kawasan tersebut. Filipina sebagai salah satu negara yang memliki kepentingan di kawasan, telah melihat perubahan dalam arah kebijakan luar negerinya dalam menangani masalah tersebut. Presiden Rodrigo Duterte mengubah arah kebijakan luar negeri Filipina terhadap Tiongkok dari sebelumnya konfrontatif menjadi kooperatif. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor penyebab terjadinya pergeseran sikap Filipina terhadap Tiongkok dari konfrontatif menjadi kooperatif dalam isu laut China selatan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan penulis adalah primer sekunder yang dapat diperoleh dari berbagai sumber literatur seperti buku, jurnal, artikel dan internet. Dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik analisis data kualitatif yang menganalisa latar belakang, gambaran umum Laut China Selatan dan proses pergeseran sikap Filipina terhadap Tiongkok. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pergeseran sikap Filipina terhadap Tiongkok dari konfrontatif ke kooperatif dalam isu Laut China Selatan disebabkan oleh dua faktor yaitu, faktor internal berupa Non-Human Environment, Society, Human Environment dan Faktor Eksternal berupa Non-Human Environment, other Cultures, Other Societies dan Societies Organized.
Tidak tersedia versi lain