Text
Analisis Faktor Risiko Hipersensitivitas Akibat Kemoterapi Regimen FOLFOX-4 di RSUP Dr. Kariadi Semarang
Kanker kolorektal menjadi salah satu penyakit dengan keganasan yang
memiliki prevalensi dan insidensi tertinggi di seluruh dunia. Kemoterapi menjadi
penatalaksanaan pengobatan kanker kolorektal, salah satunya adalah regimen
kombinasi 5-flurouracil, leucovorin dan Oxaliplatin (FOLFOX). Salah satu efek
samping atau toksisitas yang bisa terjadi pada pemberian obat kemoterapi yang
mengandung fluorourasil, leucovorin, dan Oxaliplatin dapat berupa reaksi
hipersensitivitas. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui variabel yang menjadi
faktor risiko dan pada siklus keberapa kemoterapi menyebabkan reaksi
hipersensitivitas pada pasien yang mendapat kemoterapi regimen FOLFOX-4 pada
pasien dengan diagnosis kanker kolorektal di RSUP Dr. Kariadi Semarang.
Pengambilan data menggunakan desain cross-sectional secara retrospektif
dari bulan Februari-April 2025 dengan total sampel sebanyak 56 pasien. Sampel
diambil dari data rekam medis pasien kanker kolorektal di RSUP Dr. Kariadi
Semarang dengan kriteria inklusi yaitu seluruh pasien kanker kolorektal yang
mendapat regimen kemoterapi FOLFOX-4 selama 12 siklus dan kriteria eksklusi
yaitu pasien yang dipindahkan ke ruang intensif dan pasien yang meninggal dunia
selama kemoterapi. Hasil analisis menggunakan uji Chi-Square menunjukkan
adanya hubungan bermakna antara riwayat alergi dengan kejadian hipersenitivitas
(p = 0,012). Hasil ini menunjukkan bahwa riwayat alergi merupakan variabel yang
menjadi faktor risiko terhadap kejadian hipersenstivitas pada pasien yang
mengalami kemoterapi FOLFOX-4 di RSUP Dr. Kariadi Semarang.
Tidak tersedia versi lain